Bicara

"Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman kepadaku saat semua orang ingkar, yang percaya kepadaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan semua hartanya saat semua berusaha mempertahankannya dan darinyalah aku mendapatkan keturunan." Begitulah Rasulullah SAW menggambarkan kepribadian Siti Khadijjah r.a.,istri pertamanya. Seorang isteri sejati, muslimah yang dengan segenap kemampuan diri berkorban demi kejayaan Islam.

9/03/2006

Psikologi Fanatik

Belakangan ini gejala maraknya fanatisme buta sedang melanda dunia,
terutama tumbuh subur di kalangan orang muda. Bentuk-bentuk
fanatisme buta ini sudah mengarah kepada perilaku yang membahayakan
sehingga perlu dikaji secara seksama, menyangkut karakteristiknya,
sebab-sebab timbulnya dan bagaimana upaya meredam dan menghindari
bahayanya.

1.Pengertian Fanatik
Fanatik adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebut suatu
keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu, yang positif atau
yang negatip, pandangan mana tidak memiliki sandaran teori atau
pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah
diluruskan atau diubah. (A Favourable or unfavourable belief or
judjment, made without adequate evidence and not easily alterable by
the presentation of contrary evidence) 23.

Fanatisme biasanya tidak rationil, oleh karena itu argumen
rationilpun susah digunakan untuk meluruskannya. Fanatisme dapat
disebut sebagai orientasi dan sentimen yang mempengaruhi seseorang
dalam;
(a) berbuat sesuatu, menempuh sesuatu atau memberi sesuatu,
(b) dalam berfikir dan memutuskan,
(c) dalam mempersepsi dan memahami sesuatu, dan
(d) dalam merasa.

Secara psikologis, seseorang yang fanatik biasanya tidak mampu
memahami apa-apa yang ada di luar dirinya, tidak faham terhadap
masalah orang atau kelompok lain, tidak mengerti faham atau filsafat
selain yang mereka yakini. Tanda-tanda yang jelas dari sifat fanatik
adalah ketidak mampuan memahami karakteristik individual orang lain
yang berada diluar kelompoknya, benar atau salah. Secara garis besar
fanatisme mengambil bentuk;
(a) fanatik warna kulit,
(b) fanatik etnik/kesukuan, dan
(c) fanatik klas sosial.

Fanatik Agama sebenarnya bukan bersumber dari agama itu sendiri,
tetapi biasanya merupakan kepanjangan dari fanatik etnik atau klas
sosial.
Pada hakikatnya, fanatisme merupakan usaha perlawanan kepada
kelompok dominan dari kelompok-kelompok minoritas yang pada umumnya
tertindas. Minoritas bisa dalam arti jumlah manusia (kuantitas),
bisa juga dalam arti minoritas peran (Kualitas). Di negara besar
semacam Amerika misalnya juga masih terdapat kelompok fanatik
seperti:
1). Fanatisme kulit hitam (negro)
2). Fanatisme anti Yahudi
3). Fanatisme pemuda kelahiran Amerika melawan imigran
4). Fanatisme kelompok agama melawan kelompok agama lain.

2.Analisis Terhadap Fanatisme
Fanatisme dapat dijumpai di setiap lapisan masyarakat, di negri
maju, maupun di negeri terbelakang, pada kelompok intelektual maupun
pada kelompak awam, pada masyarakat beragama maupun pada masyarakat
atheis. Pertanyaan yang muncul ialah apakah fanatisme itu merupakan
sifat bawaan manusia atau karena direkayasa?

1. Sebagian ahli ilmu jiwa 24) mengatakan bahwa sikap fanatik itu
merupakan sifat natural (fitrah) manusia, dengan alasan bahwa pada
lapisan masyarakat manusia di manapun dapat dijumpai individu atau
kelompok yang memilki sikap fanatik. Dikatakan bahwa fanatisme itu
merupakan konsekwensi logis dari kemajemukan sosial atau
heteroginitas dunia, karena sikap fanatik tak mungkin timbul tanpa
didahului perjumpaan dua kelompok sosial.

Dalam kemajemukan itu manusia menemukan kenyataan ada orang yang
segolongan dan ada yang berada di luar golongannya. Kemajemukan itu
kemudian melahirkan pengelompokan "in group" dan "out group".
Fanatisme dalam persepsi ini dipandang sebagai bentuk solidaritas
terhadap orang-orang yang sefaham, dan tidak menyukai kepada orang
yang berbeda faham. Ketidak sukaan itu tidak berdasar argumen logis,
tetapi sekedar tidak suka kepada apa yang tidak disukai (dislike of
the unlike). Sikap fanatik itu menyerupai bias dimana seseorang
tidak dapat lagi melihat masalah secara jernih dan logis, disebabkan
karena adanya kerusakan dalam sistem persepsi (distorsion of
cognition).

Jika ditelusuri akar permasalahannya, fanatik - dalam arti cinta
buta kepada yang disukai dan antipati kepada yang tidak disukai -
dapat dihubungkan dengan perasaan cinta diri yang berlebihan
(narcisisme), yakni bermula dari kagum diri, kemudian membanggakan
kelebihan yang ada pada dirinya atau kelompoknya, dan selanjutnya
pada tingkatan tertentu dapat berkembang menjadi rasa tidak suka ,
kemudian menjadi benci kepada orang lain, atau orang yang berbeda
dengan mereka. Sifat ini merupakan perwujudan dari egoisme yang
sempit.

2. Pendapat kedua mengatakan bahwa fanatisme bukan fitrah manusia,
tetapi merupakan hal yang dapat direkayasa. Alasan dari pendapat ini
ialah bahwa anak-anak, dimanapun dapat bergaul akrab dengan sesama
anak-anak, tanpa membedakan warna kulit ataupun agama. Anak-anak
dari berbagai jenis bangsa dapat bergaul akrab secara alami sebelum
ditanamkan suatu pandangan oleh orang tuanya atau masyarakatnya.
Seandainya fanatik itu merupakan bawaan manusia, pasti secara
serempak dapat dijumpai gejala fanatik di sembarang tempat dan
disembarang waktu. Nyatanya fanatisme itu muncul secara berserakan
dan berbeda-beda sebabnya. 25)

3. Teori lain menyebutkan bahwa fanatisme berakar dari tabiat
agressi seperti yang dimaksud oleh Sigmund Freud ketika ia menyebut
instink Eros (ingin tetap hidup) dan instink Tanatos (siap mati). 26)

4. Ada teori lain yang lebih masuk akal yaitu bahwa fanatisme itu
berakar pada pengalaman hidup secara aktual. Pengalaman kegagalan
dan frustrasi terutama pada masa kanak-kanak dapat menumbuhkan
tingkat emosi yang menyerupai dendam dan agressi kepada kesuksesan,
dan kesuksesan itu kemudian dipersonifikasi menjadi orang lain yang
sukses. Seseorang yang selalu gagal terkadang merasa tidak disukai
oleh orang lain yang sukses. Perasaan itu kemudian berkembang
menjadi merasa terancam oleh orang sukses yang akan menghancurkan
dirinya. Munculnya kelompok ultra ekstrim dalam suatu masyarakat
biasanya berawal dari terpinggirkannya peran sekelompok orang dalam
sistem sosial (ekonomi dan politik) masyarakat dimana orang-orang
itu tinggal. Di Indonesia, ketika kelompok Islam dipinggirkan secara
politik pada zaman Orde Baru terutama pada masa kelompok elit
Kristen Katolik(Beni Murdani cs) 27) secara efektif mengontrol
pembangunan Indonesia, maka banyak kelompok Islam merasa terancam,
dan mereka menjadi fanatik. Ketika menjelang akhir Orde Baru di mana
kelompok Kristen Katolik mulai tersingkir sehingga kabinet dan
parlemen disebut ijo royo-royo (banyak orang Islamnya), giliran
orang Kristen yang merasa terancam, dan kemudian menjadi ekstrim,
agressip dan destruktif seperti yang terjadi di Kupang dan Ambon ,
Poso, juga Kalteng (juga secara tersembunyi di Jakarta).

Jalan fikiran orang fanatik itu bermula dari perasaan bahwa orang
lain tidak menyukai dirinya, dan bahkan mengancam eksistensi
dirinya. Perasaan ini berkembang sedemikian rupa sehinga ia menjadi
frustrasi. Frustrasi menumbuhkan rasa takut dan tidak percaya kepada
orang lain. Selanjutnya perasaan itu berkembang menjadi rasa benci
kepada orang lain. Sebagai orang yang merasa terancam maka secara
psikologis ia terdorong untuk membela diri dari ancaman, dan dengan
prinsip lebih baik menyerang lebih dahulu daripada diserang, maka
orang itu menjadi agressif. 28)
Teori ini dapat digunakan untuk menganalisa perilaku agressip (1)
orang Palestina yang merasa terancam oleh orang Yahudi Israel,
agressip kepada warga dan tentara Israel, dan (2) perilaku orang
Yahudi yang merasa terkepung oleh negara-negara Arab agressip kepada
orang Palestina. Teori ini juga dapat digunakan untuk menganalisa
(3) perilaku ektrim kelompok sempalan Islam di Indonesia pada masa
orde baru (yang merasa ditekan oleh sistem politik yang didominasi
oleh oknum-oknum anti Islam), agressip kepada Pemerintah.

Dari empat teori tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa untuk
mengurai perilaku fanatik seseorang/sekelompok orang, tidak cukup
dengan menggunakan satu teori, karena fanatik bisa disebabkan oleh
banyak faktor, bukan oleh satu faktor saja. Munculnya perilaku
fanatik pada seseorang atau sekelompok orang di suatu tempat atau di
suatu masa. boleh jadi
(a) merupakan akibat lagis dari sistem budaya lokal, tetapi boleh
jadi
(b) merupakan perwujudan dari motif pemenuhan diri kebutuhan
kejiwaan individu/sosial yang terlalu lama tidak terpenuhi.

3.Cara Mengobati Perilaku Fanatik
Karena perilaku fanatik mempunyai akar yang berbeda-beda, maka cara
penyembuhannya juga berbeda-beda.
(1).Pengobatan yang sifatnya sekedar mengurangi atau mereduksi sikap
fanatik harus menyentuh masalah yang menjadi sebab munculnya
perilaku fanatik.
(2).Jika perilaku fanatik itu disebabkan oleh banyak faktor maka
dalam waktu yang sama berbagai cara harus dilakukan secara serempak
(simultan) .

Perilaku fanatik yang disebabkan oleh masalah ketimpangan ekonomi,
pengobatannya harus menyentuh masalah ekonomi, dan perilaku fanatik
yang disebabkan oleh perasaan tertekan, terpojok dan terancam, maka
pengobatannya juga dengan menghilangkan sebab-sebab timbulnya
perasaan itu. Pada akhirnya, pelaksanaan hukum dan kebijaksanaan
ekonomi yang memenuhi tuntutan rasa keadilan masyarakat secara
alamiah akan melunturkan sikap fanatik pada mereka yang selama ini
merasa teraniaya dan terancam.

4.Klien dan Konselor Perilaku Fanatik
Pada umumnya orang yang memiliki pandangan fanatik merasa tidak
membutuhkan nasehat dari orang lain selain sesama (in group) mereka.
Oleh karena itu konselorlah yang harus aktif berusaha mendekati
klien. Yang dapat dilakukan oleh seorang konselor terhadap klien
fanatik antara lain :
1).Mengajak berfikir rationil. Pada umumnya orang fanatik tidak
rationil dalam memandang masalah yang diyakininya benar. Jika ia
dapat kembali berfikir rationil dalam bidang yang diyakini itu maka
secara otomatis sikap fanatiknya akan mencair.
2). Menunjukkan contoh-contoh yang pernah terjadi akibat dari
perilaku fanatik. Pada umumnya perilaku fanatik berakhir dengan
kekacauan, kegagalan atau bahkan penjara. Orang yang telah sadar
dari kekeliruannya berpandangan fanatik biasanya kemudian
mentertawakan diri sendiri atas kepicikannya di masa lalu.

Sedangkan konselor perilaku fanatik disamping harus memiliki wawasan
konseling, secara khusus ia harus memiliki pengalaman yang luas
sehingga ia tidak menggurui tetapi menggelitik cara berfikir klien
yang tidak rationil itu.

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home